+6281216100200 info@undukangarden.com

Kawasan Hutan Mangrove dan Bagaimana Kita Berutang Kepadanya

Tanaman Mangrove Tumbuh di perairan payau. Seperti pesisir pantai sampai pada pesisir muara sungai. Kehidupannya sendiri dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut, kawasan hutan mangrove terbentuk biasanya di tempat dimana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Yang dimana air melambat dan mengendapkan lumpur yang terbawa dari hulu sungai.

Sedangkan untuk tanaman mangrove sendiri terdiri dari berbagai macam, dari Jenis Avicennia lanata sampai pada Acrostichum aureum. Semua memiliki garis persamaan yang sama yaitu meliki akar yang kuat untuk menahan gelombang pesisir.

Untuk persebaran kawasan mangrove terbesar di Indonesia berada pada sisi barat dan timur pulau Sumatera, beberapa titik di pulau Jawa, sepanjang pesisir pulau Kalimantan, sepanjang pesisir pulau Sulawesi, bagian barat pulau Papua sampai pada Bali dan Nusa Tenggara.

Fungsi Mangrove Secara Umum

Menyebut Indonesia dengan salah satu penyumbang ekosistem mangrove terbesar di dunia tidak berlebihan rasanya. Mengingat dari jumlah total mangrove Dunia seluas 16.530.000 Ha, 23% diantaranya berasal dari Indonesia yang seluas 3.489.140,68 Ha. Lalu kita saling bertanya seberapa penting fungsi mangrove dan mengapa kita harus mampu menjaganya? Sebelum mengurai pertanyaan tersebut mari kita melihat sekilas kondisi mangrove di Indonesia.

Dari jumlah total mangrove yang ada di bangsa kita 1.817.999,93 Ha rusak. Data ini sendiri dirilis oleh Direktur Bina Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial, dirilis di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, pada 2017 lalu. Jika menilai dari data tersebut bisa di pastikan bahwa hampir sebagaian besar ekosistem mangrove harus di lakukan pemberdayaan ulang guna mengembalikan fungsi mangrove itu sendiri. Lalu mari kita bahas pertanyaan tadi dengan jawaban yang sederhana untuk dipahami dan dipelajari guna mendapatkan pemahaman yang baik perihal penting atau tidaknya kita menjaga ekosistem mangrove di Bumi Pertiwi ini.

1. Melindungi dataran dari abrasi

Pada ungkapan sederhana abrasi bisa dikatakan pengikisan dataran pantai oleh gelombang laut secara terus menerus sama seperti erosi hanya perbedaan tempat dimana pengikisan itu terjadi. Pun berdasarkan artikel dari kumparan mencatat bahwa 30.000 Ha bibir pantai karena abrasi. Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi daerah yang terdampak paling parah untuk hal ini.

Lalu mengapa mangrove mampu menahan gelombang air laut dan dikatakan dapat mencegah abrasi itu sendiri? Akar mangrove sendiri memiliki akar yang kuat yang mampu menopang agar tetap berdiri kokoh dan mampu untuk menahan dentuman ombak. mangrove sendiri cukup unik, tidak banyak pepohon yang mampu untuk tumbuh di dataran berair asin maupun payau. Sekalipun ada tapi tidak cukup mampu untuk tetap menancapkan akarnya pada lumpur ataupun tanah yang menjadi pijakan untuk ia berakar.

Itulah mengapa kawasan pesisir yang tidak memiliki ekosistem hutan mangrove tergolong rawan untuk tidak di tinggali. Beberapa alasan tentu adalah memiliki persentase abrasi yang lebih tinggi, kesulitan mendapatkankan air bersih dan masih banyak lainnya

2. Sebagai habitat binatang maupun berbagai macam ikan

Ada banyak sekali binatang dan Ikan atupun Krustasea yang mendiami kawasan Bakau sebagai tempat tinggal maupun mencari makan. Yang paling kalian kenal mungkin adalah Kepiting bakau atau bahasa latinnya Scylla Serrata. Kepiting Bakau pun menjadi nilai ekonomis tinggi. Bukan sekedar isu, sejak periode 1950-1968 hingga periode 1968-2014 mengalami peningkatan drastis akan komoditas kepiting Bakau ini menurut Food and Agriculture Organization atau FAO pada 2018 lalu. Maka tidak heran mulai banyak kelompok pemberdaya mulai fokus untuk melakukan bibitkan kepiting ini.

Bukan hanya kepiting bakau saja yang mendiami kawasan mangrove. Ada lagi Udang Pistol, ikan Glodok, Kepiting Laga sampai Kucing Mangrove. Tapi perlu kita garis bawahi juga, bilamana kawasan ekosistem yang dihuni oleh berbagai macam fauna rusak maka fauna itu sendiri akan mengalami penurunan jumlah bahkan bisa hilang untuk kawasan tersebut. Sebut saja Kucing Bakau atau Prionailurus Viverrinus adalah salah satu fauna yang mengalami kerugian drastis akan adanya kerusakan kawasan hutan mangrove. Menurut Encyclopedia of Life Kucing Ini berstatus terancam menurun.

3. Berperan terhadapan pembentukan pulau baru dan penyaring alami

Jika anda mengatakan bahwa pembentukan pulau baru hanya dengan cara buatan yaitu reklamasi maka anda salah. Tanaman mangrove juga bisa dikatakan mampu untuk membuat pulau sendiri. Tapi bukan pulau seperti yang anda bayangkan dengan kurun waktu singkat.

Prosesnya sendiri terbilang cukup panjang, sejatinya terbentuknya pulau bukanlah tujuan utama kenapa kita perlu menjaganya. Akar mangrove adalah penyaring alami untuk zat kimia yang berada dilautan, zat kimia seperti apa? Tentu zat kimia yang terbuang disengaja ataupun tidak oleh manusia. Anda mempunyai kemampuan untuk sekedar mencari berita tentang banyaknya tumpahan minyak yang terjadi di laut lepas dan berakhir pada pencemaran dalam skala besar di internet. Nah disinilah keuntungan Daerah pesisir memiliki mangrove. Seperti halnya pembahasan pertama dan kedua, mangrove mampu menetralisir kerusakan yang di timbulkan oleh pencemaran tersebut.

Yang berujung pada terjaga ekosistem terumbu karang, air, sampai habitat fauna itu sendiri. Sedangkan untuk terbentuknya pulau sendiri terjadi karena biji tanaman mangrove atau vivipar akan terbawa arus yang nantinya akan tumbuh dan membuat ekosistem mangrove yang baru. Endapan lumpur atau tanah yang berada di laut pesisir akan mengendap pada akar dan disanalah proses pembentukan pulau terjadi. Meskipun proses ini terbilang lama tapi seperti yang dikatakan di atas tadi. Pembentukan pulau adalah Bonus sedangkan hal utamanya adalah terjaganya ekosistem kawasan itu sendiri.

Baca semua : Tips dan Opini Undukan Garden

Menjaga kelestarian Kawasan Mangrove

Setelah membaca di atas tentu kita mulai memikirkan tentang pentingnya mangrove untuk keberlangsungan hidup kita bukan? Tentu kita memiliki peluang untuk ikut melestarikannya sekalipun itu dengan cara sederhana. Jika melihat data kerusakan mangrove pada 2017 lalu tentu mungkin saat ini keadaan bisa jauh lebih memburuk maka dari itu kita bisa melakukan hal sederhana ini untuk ikut membuat kawasan mangrove kembali membaik.

1. Melakukan penanaman ulang

Hal yang paling berhasil dan lumrah untuk dilakukan adalah penanam ulang pada kawasan mangrove yang sudah rusak parah. Bukan pada kawasan itu saja tapi bisa di lakukan pada kawasan yang memiliki tingkat abrasi tinggi. Ini perlu sebagai prioritas utama mengingat bagaimanapun juga kawasan tersebut berdampak parah dan mempengaruhi sektor kawasan hunian manusia di pesisir tersebut.

2. Melakukan perluasan kawasan hutan mangrove

Perluasan memang sangat penting jika kita sudah melakukan Penanaman ulang. Meskipun pada dasarnya tanpa campur tangan manusia pun tumbuh-tumbuhan mampu membuat ekosistem yang lebih luas hanya saja tentu ada kerusakan alami maupun ulah manusia yang bilamana setelah penanaman ulang hendaknya bersifat memperluas. Ini akan mempengaruhi kemungkinan hidup dan terjaganya ekosistem mangrove lebih lama.

3. Penyuluhan tentang ekosistem mangrove

Hal yang terakhir dan paling penting dilakukan adalah penyuluhan tentang pentingnya kawasan mnagrove. Warga daerah pesisir pantas menjadi prioritas penyuluhan, bukan penyuluhan saja. Karena ia juga yang mampu secara besar menjaga dan tetap melestarikan mangrove. Bukan tanpa alasan, notabene sendiri mangrove memang mendiami daerah pesisir sampai ke hulu dan itu pun terkadang hidup bersama kawasan pemukiman warga. Maka dari itu, warga nelayan lah yang secara garis besar harus sadar tentang pentingnya mangrove, toh mangrove juga mampu menciptakan ekosistem fauna dan biota laut yang lebih terjaga dan lestari.

 

Itu adalah gambaran secara umum tentang bagaimana fungsi mangrove dan bagaimana kita harus menjaganya. Lalu bagaimana keadaan hutan mangrove saat ini? Di kutip dari situs Mongabay.co.id

  • Suhu bumi dalam lima abad terakhir, naik secara signifikan hingga mencapai 1,5 derajat celsius pada pada 2018 berdasarkan catatan IPCC. Kenaikan itu di antaranya dipicu pembangunan yang masif namun negatif dengan cara ekstraktif dan eksploitatif
  • Kenaikan suhu bumi yang signifikan, berimbas pada kondisi ekologi di wilayah pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil. Di sana, praktik pembangunan yang serba cepat, mengancam keberlanjutan ekologis dan sekaligus sosio ekonomi masyarakat pesisir
  • Di antara kondisi ekologi yang terancam, adalah hutan bakau yang ada di kawasan pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil sepanjang 95 ribu kilometer. Ancaman tersebut menjadi ironi, karena hutan bakau masih memegang peranan penting untuk keberlanjutan ekonomi masyarakat di pesisir. Saat ini, terdapat 6.829 desa pesisir yang menggantungkan perekonomiannya pada pemanfaatan hutan bakau.
  • Namun, hutan bakau diketahui terus mengalami deforestasi. Hingga 2018, tercatat sudah ada hutan bakau seluas 4,4 juta hektare yang mengalami deforestasi. Angka tersebut, meningkat dari 2017 yang luasannya baru mencapai 3,7 juta ha.

Itu adalah gambaran tentang keadaan pada 2018. Kurang lebih 2 tahun lalu. Dan tentu kita punya keraguan besar apakah tahun ini ada peningkatan tentang pertumbuhan atau kerusakan? Itu akan menjadi pertanyaan besar ketika dari diri kita masing-masing telah berpikir bahwa hal sederhana seperti menjaga alam bukan hanya perkara sederhana, itu akan sedikit menguras keringat kita tapi jika kita adalah bagian orang-orang yang ikut peduli secara penuh akan keberlangsungan alam juga semesta tidak perlu takut untuk sedikit berbangga diri karena ikut menjaga warisan paling agung karya Tuhan. Ialah semesta beserta ciptaan alamnya yang indah.

Akhir tulisan ini kita akan berdiam diri kembali, gunakan waktu itu untuk berpikir lebih dalam lagi, kita bagian manusia yang menjaga atau merusak? Tanyakan pertanyaan sederhana itu ke hati kecil kita. Terimakasih dan sampai jumpa kembali.

 

Kontributor | Adi Candra